Featured post

Catatan Perjalanan Indramayu-Bogor-Malang-Bogor-Indramayu selama 5 Hari (7-11 Januari 2019) Part 2

Part 2 (8-9 Januari) [Bogor – Jakarta – Malang]

 

Jam 05.00 aku bangun lagi, lalu mandi, sarapan, dan mulai berangkat ke Malang, tapi aku sempatkan mampir dulu ke Citeureup untuk membeli bekal perjalanan.

20190108_080848.jpg

Citeureup, Bogor, Jawa Barat

Setelah itu kami menaiki angkutan umum beberapa kali, dari Citeureup ke Cibinong dengan angkot 08, lalu Cibinong ke Depok turun di pasar Segar dengan Miniarta Bogor – Depok, dan lanjut lagi ke stasiun Depok Baru dengan angkot D08. Setelah membeli tiket KRL menuju stasiun Gondangdia, kami menunggu krl yang datang jam 11.05 dan setelah kereta itu datang kami langsung menaikinya.

20190108_095547.jpg

Sebuah KRL tak terpakai di Stasiun Depok Baru

Ada kejadian unik dimana ibu saya ternyata ditegur oleh petugas KRL karena sebenarnya orang tua (ibuku sudah mau berumur 50 tahun) tidak boleh berdiri terlalu lama di KRL dan dibantu untuk duduk di kursi prioritas, aku salut dengan petugasnya, semoga menjadi amal ibadah juga. Kereta terus berjalan, sebenarnya aku ingin berdiri saja, hanya saja ibuku malah ingin aku duduk, padahal kalo berdiri bisa lihat-lihat pemandangan kota Jakarta dengan segala isinya, tapi aku turuti saja kemauan ibuku ini hehehehe.

20190108_112049.jpg

Nomor dan tahun pembuatan KRL tersebut

Akhirnya menjelang waktu Dhuhur, aku sampai di stasiun Gondangdia dan setelah itu mencari makan disana, akhirnya aku menemukan sebuah warung dan aku langsung makan. Oh ya, aku sempat membeli sosis bakar pedas dahulu sebelum makan, barangkali bisa buat cemilan. Setelah aku makan, lalu kami menaiki bajay menuju stasiun Gambir untuk mengecek tiket KA Bima yang sudah kupesan sebelumnya, setelah berhasil ditukarkan, aku langsung menunggu dan sempatkan juga shalat Dhuhur sambil menunggu kereta datang. Sambil menunggu kereta aku sempat mencoba membeli minuman dengan vending machine, dan setelah beberapa kali gagal, aku akhirnya bisa membeli minuman tersebut, aku merasa senang, aku pun juga menyempatkan untuk menonton Anime kesukaanku. Lalu saat menunggu kereta datang, ada pemberitahuan bahwa kereta akan terlambat beberapa menit karena penggantian gerbong, aku dengan setia menunggu disaat penumpang lainnya mulai menggerutu karena keterlambatan kereta tersebut namun ibu saya malah bercengkrama dengan seorang penumpang yang akan berangkat menggunakan kereta tersebut ke Purwokerto, di sebelah jalur yang akan ditempati KA Bima, ada juga KA Argo Sindoro arah Semarang Tawang dengan body Stainless Steel.

Akhirnya kereta datang pada jam 16.45 dan kami bergegas langsung menaikinya, ternyata kami dipisahkan tempat duduknya dan aku justru duduk dengan seorang perempuan kuliahan yang akan mengadu ilmu di Malang dan saya sempat berbicara lumayan banyak dengan perempuan itu di kereta, sedangkan ibu saya malah duduk dengan seorang bapak-bapak pensiunan TNI dan keluarganya berada di depannya.

20190108_164829.jpg

Interior KA Bima, sesaat setelah naik dari stasiun Gambir

Tidak banyak yang aku ceritakan tentang KA Bima yang aku naiki ini, namun aku merasa kalau baru kali ini aku melakukan perjalanan yang paling jauh, dan ini juga merupakan kali pertama aku menuju Provinsi Jawa Timur, ketika aku sama sekali belum kesana sedangkan aku malah tak bisa tidur di kereta. Jam 21.28, kereta berhenti di stasiun Purwokerto, lalu jam 00.10, berhenti di stasiun Yogyakarta dan aku sempat memfoto interior kereta tersebut,

lalu jam 03.01 berhenti di stasiun Madiun, jam 04.30 aku terbangun dan tak terasa sudah sampai stasiun Jombang, jam 05.38 kereta berhenti lama di stasiun Gubeng untuk penggantian lokomotif, jam 06.20 kereta pun berangkat menuju Malang.

20190109_053717.jpg

Stasiun Surabaya Gubeng, dengan KA Jayakarta Premium yang sudah berhenti lebih dahulu sebelum KA Bima

Aku sempat menonton berita ketika itu ada kasus pembunuhan seorang pelajar SMK di salah satu kota di Jawa Barat yang disiarkan di TV yang aku tonton menggunakan koneksi internet, orang-orang di sebelah tempat duduk dan sebelah ibuku pun menonton berita tersebut, aku juga merasakan bahwa beberapa orang di dalam kereta juga terlihat membicarakan kejadian tersebut. Aku merasa kaget bahwa ada kasus yang bahkan sampai ikut menghebohkan banyak orang bahkan dunia maya pun ikut heboh.

Lalu setelahnya kereta pun berangkat, aku berpisah dengan perempuan kuliahan itu, dan aku duduk dengan ibuku sedangkan bapak itu duduk dengan keluarganya karena bapak itu akan turun di stasiun Sidoarjo. Aku sempat melihat tanggul lumpur Lapindo dari balik kereta dan tanggul itu sangatlah panjang dan besar. Setelah kereta menurunkan dan menaikan penumpang dari stasiun Sidoarjo dan bapak itu mengucapkan salam pada kami berdua, barulah pemandangan terlihat, Gunung Arjuno di sebelah kanan dan gunung Bromo-Semeru di sebelah kiri terlihat dari balik kereta. Aku juga melihat banyak petani yang masih memakai kerbau untuk membajak sawah, lalu setelah beberapa lama, kereta pun akhirnya sampai di stasiun Malang dan aku pun turun dan sampai dengan selamat.

20190109_082744.jpg

Stasiun Malang, dan KA Bima yang aku naiki semalam tadi

Aku sempat mengganti baju dan menggosok gigi dan juga menggunakan deodoranku dan setelah keluar dari stasiun Malang aku sarapan dan langsung menuju loket bus Gunung Harta untuk kembali ke Bogor.

Berlanjut ke Part 3.

Advertisements

Catatan Perjalanan Indramayu-Bogor-Malang-Bogor-Indramayu selama 5 Hari (7-11 Januari 2019) Part 3

20190110_091615.jpg

Jalan Pattimura Klojen, dekat agen Gunung Harta kota Malang.

Setelah saya memesan dan membayar tiket bus itu seharga 340 ribu, saya pun mulai mencari rute menuju kota Batu, saya sempat kebingungan namun akhirnya kami memberanikan diri bertanya pada orang-orang sekitar, dan akhirnya kami menemukan petunjuk yaitu naik angkot dari persimpangan Jalan Pattimura ke terminal Landungsari dimana bus yang melewati kota Batu berada. Setelah angkot berhenti di terminal Landungsari, kami langsung bergegas menuju bus yang dimaksud, ternyata bus itu adalah bus ¾ dan bus itu ber-AC, bus itu tak lain adalah bus Po. Bagong jurusan Malang – Jombang via Batu. Kami pun langsung menaikinya, banyak juga yang naik dan bus itu sudah akan berangkat, tak lama kemudian, bus itupun berangkat menuju Batu, kami membayar ongkos sebesar lima ribu, sepanjang jalan kami disuguhkan pemandangan gunung Arjuno dan Arjuna dari kejauhan, tak lama kemudian kami sampai ke kota Batu dan turun di dekat Museum Angkut yang akan kita kunjungi kali ini. Ada hal menarik saat kita mengunjungi Museum Angkut, dimana disangkanya gedungnya kecil, namun setelah kita ke dalamnya dan terus berjalan. Ternyata bahkan koleksi kendaraan sangatlah banyak saudara-saudara, kebanyakan kendaraan produksi Eropa dan Amerika, serta sedikit yang dari Jepang, kali ini aku merasa senang bahkan sampai mengabaikan perutku yang mulai lapar, untung saja ibuku membelikan pop mie supaya aku bisa makan lalu melanjutkan perjalanan lagi.

20190109_120635.jpg

Salah satu kendaraan koleksi Museum Angkut kota Batu

20190109_120238.jpg

Salah satu mobil koleksi Museum Angkut Batu.

20190109_122552.jpg

Bagian atas Museum Angkut Batu, ketika menghadap ke beberapa gunung di selatan dan barat kota Batu.

Setelah keluar dari gedung otomotif, kali ini kami menuju gedung budaya, dan melihat koleksi benda-benda budaya dan benda-benda purbakala yang tersimpan rapi dari seluruh negeri. Akhirnya setelah itu kami keluar dari Museum Angkut, aku sangat senang sekali karena keinginanku kesampaian. Setelah itu kami membawa contoh pemesanan penginapan yang sudah dibayar sebelumnya secara online. Setelah itu aku sempat tertidur sampai jam setengah delapan malam, dan aku langsung bergegas mandi, aku sempat memperhatikan kalau disini air panasnya menggunakan gas dan saat aku memakainya airnya cukup hangat untuk aku mandi. Setelah itu kami makan malam dan akhirnya tidur lelap hingga keesokan harinya.

20190109_141816.jpg

Persimpangan yang tak jauh dari depan Museum Angkut Batu.

Berlanjut ke Part 4

Catatan Perjalanan Indramayu-Bogor-Malang-Bogor-Indramayu selama 5 Hari (7-11 Januari 2019) Part 1

Baiklah, gak banyak perkenalan saya langsung mau bercerita tentang catatan jalan-jalan saya dari Indramayu lalu ke Bogor lalu ke Malang lalu balik lagi ke Bogor dan kemudian Indramayu.

 

Oke, ini adalah isinya.

 

Part 1 (7 Januari) [Indramayu – Jakarta – Bogor]

 

Jam 05.00 aku bangun tidur dan aku mulai mandi dan mempersiapkan diri, setelah itu aku mempersiapkan barang yang akan aku bawa. Lalu jam 08.30 aku berangkat menuju Stasiun Haurgeulis, setelah sampai ke stasiun aku langsung memberikan tiket yang aku tukarkan sebelumnya sehari sebelum keberangkatan. Aku menunggu mulai jam 09.00 hingga jam kedatangan kereta pada 09.36, aku melihat beberapa kereta api lewat, seperti KA Ciremai dan juga ada bonus KA Matarmaja Tambahan yang berhenti cukup lama di stasiun Haurgeulis sebelum KA Cirebon Ekspres akhirnya datang di stasiun.

20190107_092546

Stasiun Haurgeulis; KA Matarmaja Tambahan berhenti cukup lama disini, sekitar hampir 20 menit.

Saat kereta datang, aku menaikinya, tetapi aku mendapatkan posisi dimana kursinya tak menghadap ke jendela,dan aku hanya bisa melihat ke jendela kursi lain, udah gitu ternyata kami malah diberi tempat duduk yang seharusnya untuk difabel, sejujurnya aku ingin pindah saja karena merasa saya sebenarnya bukan difabel, tapi gapapa kok,yang penting nyaman karena untuk jarak yang sama dengan rute bus ekonomi bumel non ac, yang kereta sudah ada colokan listrik, AC, dan bahkan juga toilet, dan juga kursi yang nyaman. Kereta pun melaju kencang dan aku merasa nyaman didalamnya. Aku sudah menaiki moda ini dua kalisebelumnya, dan ini yang kali ketiga.

20190107_093956

KA Cirebon Ekspres, nyaman dan harga sudah cukup murah ditambah dengan diskon promo.

20190107_113200

Pasaraya dari Kejauhan

20190107_114010

Menjelang stasiun Gambir

Jam 11.37 aku sampai ke stasiun Gambir, lalu langsung menukarkan tiket KA menuju ke Malang. Oh ya, kali ini untuk Cirebon Ekspres dan ka selanjutnya itu aku mendapat promo diskon, yang ekonomi seharga 50 rb dan yang eksekutif seharga 150 ribu. Aku merasa beruntung sekalipada saat itu, dan juga KA selanjutnya yang akan mengantarkan aku lagi menuju kota Malang adalah KA Bima, juga aku mendapatkan diskon dan beruntung sekali aku bisa menaikinya. Setelah itu aku keluar stasiun dan langsung naik bajay menuju terminal Senen dengan ongkos 2 orang sekitar 15 ribu

20190107_120241

Setelah sampai di terminal Senen aku segera mencari bus yang menuju Cibinong, tetapi setelah itu kami baru tahu kalau bus jurusan Senen – Cibinong sudah tidak ada. Jadilah kami berdua naik bus jurusan Senen – Bubulak, dan itupun juga harus ngetem sekitar 2 jam. Cuaca Senen yang panas membuat kemejaku kini mulai basah oleh keringat tapi aku masih wangi. Setelah 2 jam berlalu bus pun berangkat, lalu ngetem lagi di UKI, lalu berangkat lagi hingga kami turun di Warung Jambu. Oh ya, tujuan kami ialah menengok makam Alm. Ayah saya di Kampung Sawah, lalu aku naik angkot 32 dan berlanjut naik angkot 72 hingga turun depan pintu masuk pemakaman Pondok Rajeg. Saat kami menuju makam dan setelah kami berdua berdoa, tiba-tiba saja hujan turun dengan deras dan kami langsung meninggalkan makam dan naik angkot ke Cibinong. Setelah itu aku merasa lapar dan makan di Warung Padang di pinggir jalan, setelah itu kami melanjutkan perjalanan lagi ke Citeureup dan setelah itu sempat berbelanja sebentar di beberapa tempat sebelum lanjut ke tempat temanku untuk menginap semalam di desa Sanja. Sesampainya disana, aku langsung mandi dan setelah itu langsung menemui teman-teman lama saya dan saya bermain ke rumah teman lama saya tak jauh dari tempat saya menginap sebelumnya, saya merasa bernostalgia akan masa lalu-ku. Setelah itu saya menginap dan keesokan harinya langsung berangkat menuju stasiun Gambir.

Lanjut ke Part 2

Bullying terhadap Penyandang Autisme dan Solusinya

Bismillahirrahmanirrahim.

 

Banyak sekali kasus bullying terjadi pada penyandang Autisme karena masih banyak yang menganggap bahwa penyandang Autisme adalah aib.

Namun sebelum itu, aku akan menjelaskan tentang penyandang Autisme dan apa itu Autisme.

Autisme adalah suatu gangguan perkembangan dimana penyandangnya punya banyak keterbatasan dalam berbicara, dan juga berperilaku. Jika terjadi, biasanya gejala Autisme terjadi pada umur 18 bulan hingga 3 tahun.

Gejala, karena gejalanya sepertinya sangat panjang, maka sumbernya ada disini : https://www.alodokter.com/autisme/gejala

Bullying pada penyandang Autisme bisa jauh lebih parah dibanding kalau pada manusia normal, karena kondisi mereka dinilai lemah oleh banyak orang, maka mereka seakan-akan sering dijadikan mainan oleh sebagian orang yang tak suka dengan keberadaan mereka, ditambah lagi sebagian penyandang bahkan mempunyai tingkat sensitivitas yang tinggi. Sehingga mereka menjadi korban bullying, dan bahkan jauh lebih sering dari kebanyakan orang normal lainnya, bahkan di beberapa kasus, mereka dibully dengan sangat parah sehingga mereka berpotensi untuk depresi dan berpotensi menimbulkan kematian bagi mereka.

Jenis Bullying yang dialami penyandang adalah :

  • Ras/Suku/Daerah
  • Fisik
  • Kondisi Ekonomi
  • Non-fisik (Psikis)
  • Cyber Bullying
  • Seksual
  • Penjauhan massal bahkan diabaikan
  • Bullying dalam birokrasi (terkadang itu bisa terjadi)

Solusi Untuk mengatasinya :

  • Pemerintah sebaiknya menyusun UU tentang bullying terhadap semua penyandang cacat, termasuk juga pada penyandang Autisme.
  • Para orang tua penyandang juga tidak boleh memperlakukan anak dengan salah.
  • Perlu kesadaran dari masyarakat sendiri akan bahaya Bullying dan bagaimana gejala Autisme itu sendiri.
  • Semua elemen masyarakat harus melindungi kehidupan seluruh penyandang cacat termasuk penyandang Autisme agar mereka merasa terlindungi.

Demikian postingan saya ini, semoga aku dan juga kamu mengerti tentang Bullying terhadap penyandang autisme.

 

Sumber dari akun twitter saya sendiri : https://twitter.com/benarikozakura/status/1037890155267289088

Catatan Jalan-Jalan Indramayu-Bogor-Taman Bunga Nusantara

6.00 : Aku sudah berangkat menuju stasiun Haurgeulis, dan aku sudah menyiapkan tiketnya.

IMG20180824064456

Suasana Stasiun Haurgeulis.

6.30 : Aku sudah sampai di stasiun Haurgeulis, dan menyerahkan tiket ke petugas.

6.56 : KA Cirebon Ekspres pun datang, dan aku langsung naik di gerbong kelas Ekonomi seri terbaru yang menurutku sudah sangat nyaman.

IMG20180824070429

Bagian Dalam KA Cirebon Ekspres kelas Ekonomi AC Plus New Image.

8.00 : Kereta yang aku naiki mulai menunjukkan sisi kenyamanan bagi yang aku naiki, bahkan aku kali ini sangat senang dengan kereta ini.

8.15 : Aku sempat ke toilet, dan ternyata toiletnya bersih dan wangi, hanya saja suara roda gerbong sangat terasa.

8.46 : Akhirnya aku sampai di stasiun Jatinegara, aku dan ibuku pun langsung membeli tiket KRL Commuter Line. Lalu disaat kami naik, gerbong sudah cukup penuh.

IMG20180824085507

Suasana Stasiun Jatinegara

IMG20180824090023

Keretanya penuh, untung hanya enam menit perjalanan saja.

9.07 – 9.22 : Aku pun lalu sampai di stasiun Manggarai. Aku pun membeli tiket KRL lagi, namun ada sedikit masalah karena kartu kali ini tak terdeteksi di pintu masuk, akhirnya petugas pun membantu ibuku yang tak sempat masuk karena kartunya tak terdeteksi.

10.15 : Sempat terjadi insiden dimana tiba-tiba gerbong KRL membunyikan sirene yang cukup keras. Aku pun langsung takut jika terjadi sesuatu, namun yang terjadi adalah itu diakibatkan oleh adanya seorang anak tanpa pengawasan orang tuanya yang memencet tombol darurat.

10.21 : Udara di gerbong sejuk, dan walaupun gerbong ini tergolong klasik, tapi udara disini tetap sejuk.

IMG20180824101201

Gerbongnya, biar klasik namun tetap apik.

10.36 : Aku pun sampai di stasiun Bogor, lalu membeli perlengkapan sebentar di Pasar Anyar. Udara yang panas membuat keringat mengucur membasahi kemejaku, walau kemejaku masih tercium semerbak wangi.

IMG20180824103520

Suasana di Stasiun Bogor.

12.00 : Aku pun menunggu bus yang akan mengantar kami ke Taman Bunga Nusantara di Cipanas, Cianjur. Namun karena ternyata ada aturan baru bahwa bus besar dilarang melewati Puncak, maka kuputuskan bahwa aku akan menaiki mobil elf jurusan Cianjur. Sepanjang jalan aku takjub dengan kelihaian pengemudi elf yang bahkan tidak membuat aku bergoyang kanan-kiri meski di jalan pegunungan, apalagi udara dingin khas Puncak sedang menerpa tubuhku.

15.30 : Aku pun akhirnya sampai di Taman Bunga Cipanas, setelah itu kami makan dan bayar tiket masuk. Di dalam sana banyak disajikan pemandangan yang indah khas hamparan bunga dan rumput. Saat di dalam sana, keringat mengucur lagi dengan deras karena berjalan kaki cukup jauh dan menggendong tas, dan kemeja yang aku kenakan sudah basah oleh keringat, aku pun juga memfoto pemandangan dan foto diriku sendiri. Lalu saat keluar aku sempat kebingungan mencari pintu keluar, lalu akhirnya ketemu juga pintu keluarnya. Lalu setelah keluar, aku pun langsung naik angkot ke Cipanas.

IMG20180824155011

Taman Bunga Nusantara, Sukaresmi, Cianjur.

17.00 : Aku pun menunggu angkutan umum yang akan membawaku kembali ke Bogor, namun karena terlalu lama menunggu, aku pun memutuskan berjalan kaki lagi ke ujung pasar Cipanas, lalu aku pun ketemu angkutan yang aku ingin naiki.

18.00 : Angkutan alias elf itupun berangkat, aku sempat melihat pekerjaan umum di jalan, yang ternyata jalur Puncak masih dalam perbaikan pasca-longsor Februari lalu. Setelah turun dari Puncak, kami disambut kemacetan yang luar biasa, sampai-sampai pengemudi elf akhirnya mengambil jalur alternatif. Lalu kami sampai di Bogor jam 8 malam.

20.00 : Setelah sampai di Bogor, kami pun langsung mandi karena kemejaku sudah lengket karena keringat yang mengucur tadi sore, sampai disini perjalanan berakhir.

Manusia, Dari Sisi Saya Sebagai Penyandang Autisme

Sebenarnya, ini mengenai curhatanku sebagai anak dengan penyandang Autisme, ketika aku merasa aku membawa gangguan ini kemana saja, kapan saja, dan banyak orang yang tak mengerti aku, aku selalu diperlakukan seperti hewan.

Mungkin aku sendiri tak mengerti kenapa aku begini, dan orang lain begini.

Baiklah, aku jabarkan definisi manusia itu apa (id.wikipedia.org/wiki/Manusia/)

Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin yang berarti “manusia yang tahu”). Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi yang, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok, dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.

Selanjutnya…………….

Dengan kata lain, Manusia itu adalah makhluk yang sangat unik, mereka hidup, bernapas, makan, beraktivitas, bekerja, lalu menghasilkan keturunan hingga akhir hayat mereka. Mereka juga punya logika dan norma, tak seperti hewan, selain itu, manusia juga punya nama dan nama panggilan, seperti halnya saya yang dipanggil Riko.

Namun, saat ini, manusia sudah seperti robot, dimana mereka dikendalikan hanya untuk uang, baik robot uang, robot hasrat, maupun robot sistematis.

Dan tak sedikit juga manusia yang berlaku seperti hewan, memakan sesamanya, menyerang sesamanya, dan bahkan membunuh sesamanya hanya karena suatu masalah.

Namun tak sedikit aku melihat manusia yang berlaku seperti manusia pada umumnya, yang punya perasaan dan kasih sayang kepada yang lainnya.

Yang begini kadang aku sangat suka, karena aku pandang mereka sebagai manusia seutuhnya.

Mungkin aku selalu diperlakukan seperti hewan, selalu dibully, didiskriminasi, dan diusir seperi hewan.

Lalu aku memandang manusia dengan cara berbeda, apalagi dengan manusia yang juga sama-sama diperlakukan seperti halnya aku diperlakukan seperti hewan.

Kadang aku melihat manusia yang memperlakukanku seperti ini datang karena tekanan dalam hidupnya, atau memang dia punya hati yang jahat sehingga mereka bisa berbuat seenaknya.

Apalagi aku tadi sudah bilang kalau manusia zaman sekarang seperti robot, bangun – kerja – pulang – bangun lagi – kerja lagi. Dan itu semua terkadang hanya karena ingin memenuhi gaya hidup saja, bukan semata-mata karena benar-benar ingin sukses.

Karena manusia bisa menjadi unik hingga eksentrik.

Karena setiap manusia punya perbedaannya masing-masing.

Apalagi di dunia Anime, setiap orang bisa punya kelebihan dan kelemahan yang berbeda, ada yang sangat kuat, ada juga yang sangat cerdas.

Semoga saja tulisanku ini membuatku tahu arti apa manusia sesungguhnya itu.

Terima Kasih.

NB : maaf jika kami hapus salah satu kalimat dalam kotak yang diatas, karena katanya kontroversial.

Mereka Bilang Kalau Selera Musik Dia Kampungan

Oyyy Semua!!!!!

Sepertinya disini aku belum sempat menulis lagi, tapi aku harus bisa menulis.

Oh ya……

Aku saat ini merasa ironis, karena akhir-akhir ini selera musik orang menjadi perdebatan paling panas tahun ini, sampai-sampai tagar #MulutNetizenIndo sempat menggema di Twitter.

Banyak sekali ejekan soal selera musik.

Mereka bilang :

  • Suka Dangdut itu Kampungan
  • Suka K-pop itu Gak Nasionalis
  • Suka Metal itu Preman
  • Suka Jazz itu Kelas Menengah Ngehe
  • Suka EDM itu Tukang Dugem
  • Suka Reggae itu suka Drugs
  • Suka Anime/J-pop itu orangnya gak bener
  • Suka Western itu Kebarat-baratan

Tapi yang paling parah yah terhadap K-popers, mereka bilang kalau mereka gak nasionalis lah, suka yang nggak2 lah, apalah…. Ironis memang.

Yup, baru saja ada ask dari Yagami Kou (nama samaran) bilang ke saya begini :

Mereka mengejek musikku dengan sebutan musik sampah, lalu saya bilang mereka tak menghargai selera musik saya, lalu saya dimarahi dan dibilang aku l*nte. Padahal aku memuji musik Dangdut sebagai musik yang cukup baik.

Jawaban saya :

Kau tak sendiri, aku sering dibilang penyuka musik setan karena dulu aku suka K-pop, tapi bodoamat. Dan setelah musik Dangdut dibilang kampungan, barulah perang antar (penikmat) genre musik mulai terjadi, seperti ada provokator, lalu merembet ke penikmat genre musik lainnya.

Lalu ada lagi dari Takimoto Hifumi (nama samaran juga) :

Apakah selera musik menghubungkan dengan kekayaan seseorang, memang kau bisa pikir kalau pengemudi mobil mewah tak pernah mendengar musik Dangdut?

Jawaban saya : Iya, kekayaan seseorang tak bisa diukur dari selera musik, siapa tahu kalau tetangga sebelahmu yang punya rumah mewah itu tenyata adalah pendengar Dangdut.

Padahal kalau selera musik itu universal lho, mau orang denger Dangdut, K-pop, Jazz, EDM, Reggae, J-pop, Western, atau Lagu Daerah sekalipun, kita tetap harus hargai selera musik mereka, kecuali kalau mereka mendengarkannya dengan kondisi volume besar dengan speaker yang besar juga, dan semua pintu terbuka dan rumah tetangga saling berdekatan, wah bisa-bisa tetangga pada pusing pala barbie.

Oh ya, Setiap genre musik itu punya kelebihan dan kelemahannya masing-masing, sebenarnya yang bikin perang antar genre musik itu ialah tak menghargai selera orang.

Karena Selera musik itu bukan hanya selera, namun bagaimana kamu menghargai selera musik orang lain juga.

Semoga saja Perang antar selera musik bisa segera terselesaikan dan berakhir damai.

Terima Kasih.

Writer : Riko

Idea : Riko, Kaori-chan, dan My Waifu Mary Kozakura.